Sebenernya gak pernah terfikirkan tentang hal
seperti ini tapi semua berubah setelah saya membaca sebuah novel ..*uhukuhuk* hehe
Novel yang ane baca sebenernya adalah novel yang
nyeritain tentang kehidupan keluarga yang gigih banget ngejalanin kehidupan
mereka yang keras. Namun ane lebih tertarik pada hal satu ini yaitu tentang SIKLUS
NAIK-TURUNNYA ILMU PENGETAHUAN. Kok bisa gitu? Awalnya ane juga kaget bin gak
percaya dan ane kira itu cuma basa-basi aja di awal cerita. Tapi ternyata hal
ini malah bikin ane penasaran karena di bagian selanjutnya si penulis jelasin
juga contoh-contoh nyata dari naik-turunnya ilmu pengetahuan ini.
Di dalam novel tersebut dijelaskan bahwa jika dibaratkan,
maka peradaban manusia persis seperti roda. Terus berputar. Naik turun.
Mengikuti siklusnya. Ada suatu masa, ketika kemajuan ilmu pengetahuan mencapai
puncaknya, manusia menguasai teknologi-teknologi hebat, lantas entah oleh apa,
mungkin karena peperangan, bencana alam, atau karena entahlah, di masa-masa
berikutnya kembali meluncur ke titik terendahnya.
Kalian yang beragama islam pasti pernah denger
cerita seorang pemuda sahabat dari Nabi Sulaiman (atau Solomon) dapat
memindahkan sebuah kursi seorang ratu yang jaraknya ratusan kilometer dari satu
titik ke titik lainnya sebelum mata sempat berkedip! Spektakulerr! Dan perlu
digaris bawahi bahwa yang melakukannya adalah seorang manusia. Jika kalian coba
browsing di Mbah Google atau baca di buku manapun tentang teknologi yang
dipakai oleh pemuda ini maka kalian tidak akan menemukannya. Tidak sekarang. Entah
kapan.
Kecanggihan teknologi saat ini hanya bisa bangga
dengan kode binari. Transfer data. Jaringan telekomunikasi. Internet dan
sebagainya, Tapi tidak untuk teknologi memindahkan fisik sebuah benda. Lantas,
bagaimana mungkin kita yang hidup di zaman sekarang tidak mewarisi teknologi
hebat sahabat Nabi Sulaiman tersebut setelah ribuan tahun berlalu? Bagaimana
mungkin tidak ada penjelasannya dan kita sekadar mempercayai kalau itu kondisi
luar biasa. Karomah. Keajaiban. Bukankah kepercayaan itu sebuah rasionalitas
ilmiah?
Tentu saja ada penjelasan masuk akal atas transfer
fisik kursi tersebut, harus ada penjelasan ilmiahnya, kita saja yang belum
tahu. Atau mungkin tidak akan pemah tahu. Nah, masalahnya kenapa kita saat ini tidak
mewarisi penjelasan penting tersebut? Jawabannya, mungkin saja karena
peradaban, kemajuan teknologi itu persis seperti siklus naik turun. Masa-masa
silam, masa-masa itu, manusia pernah menguasai berbagai teknologi hebat
tersebut, malah mungkin pernah memiliki rumus sederhana seperti rumus
phytagoras untuk menjelaskan bagaimana memindahkan kursi ke tempat lain. A
kuadrat sama dengan B kuadrat plus C kuadrat. Tapi entah oleh apa ilmu
pengetahuan itu kemudian musnah. Seperti roda yang berputar, peradaban manusia
kembali lagi ke titik terendahnya...
Jadi sama sekali tidak mengherankan jika saat dunia
menjelang masa senjanya, kita juga akan kehilangan senjata-senjata hebat yang
ada sekarang dalam pertempuran besar itu. Dan dunia kembali ke peperangan
dengan tangan, dengan pedang. Peperangan konvensional. Itu benar-benar masuk
akal. Itu sesuai dengan kabar dari berbagai translasi religius ini....Maka
pertanyaan pentingnya sekarang adalah: oleh apa? Oleh apa kita akan kehilangan
ilmu pengetahuan dan berbagai teknologi canggih tersebut? Kemana menguapnya
akumulasi ilmu pengetahuan yang hebat itu?
Dari penjelasan novel tersebut dikatakan bahwa akan
terjadi Badai Etektromagnetik Antar Galaksi yang akan menghantam planet ini
sebelum hari kiamat. Yang membuat berbagai peralatan elektronik, listrik, dan
kemajuan teknologi lainnya seolah 'membeku', tidak berfungsi lagi. Mati.
Jika dipikir-pikir memang bener juga apa yang
dikatakan oleh novel tersebut jika coba ditranslasikan dengan apa yang telah
dikatakan oleh kitab suci. Jadi percaya gak kalo ilmu pengetahuan itu juga
merupakan siklus naik turun? Jawabannya tergantung penyikapan dari
masing-masing kitanya. Hehe
Sumber: Novel Bidadari-bidadari Surga karya Tere
Liye
No comments:
Post a Comment