Monday, November 24, 2014

Siklus Naik-Turunnya Ilmu Pengetahuan

Sebenernya gak pernah terfikirkan tentang hal seperti ini tapi semua berubah setelah saya membaca sebuah novel ..*uhukuhuk* hehe
Novel yang ane baca sebenernya adalah novel yang nyeritain tentang kehidupan keluarga yang gigih banget ngejalanin kehidupan mereka yang keras. Namun ane lebih tertarik pada hal satu ini yaitu tentang SIKLUS NAIK-TURUNNYA ILMU PENGETAHUAN. Kok bisa gitu? Awalnya ane juga kaget bin gak percaya dan ane kira itu cuma basa-basi aja di awal cerita. Tapi ternyata hal ini malah bikin ane penasaran karena di bagian selanjutnya si penulis jelasin juga contoh-contoh nyata dari naik-turunnya ilmu pengetahuan ini.
Di dalam novel tersebut dijelaskan bahwa jika dibaratkan, maka peradaban manusia persis seperti roda. Terus berputar. Naik turun. Mengikuti siklusnya. Ada suatu masa, ketika kemajuan ilmu pengetahuan mencapai puncaknya, manusia menguasai teknologi-teknologi hebat, lantas entah oleh apa, mungkin karena peperangan, bencana alam, atau karena entahlah, di masa-masa berikutnya kembali meluncur ke titik terendahnya.
Kalian yang beragama islam pasti pernah denger cerita seorang pemuda sahabat dari Nabi Sulaiman (atau Solomon) dapat memindahkan sebuah kursi seorang ratu yang jaraknya ratusan kilometer dari satu titik ke titik lainnya sebelum mata sempat berkedip! Spektakulerr! Dan perlu digaris bawahi bahwa yang melakukannya adalah seorang manusia. Jika kalian coba browsing di Mbah Google atau baca di buku manapun tentang teknologi yang dipakai oleh pemuda ini maka kalian tidak akan menemukannya. Tidak sekarang. Entah kapan.
Kecanggihan teknologi saat ini hanya bisa bangga dengan kode binari. Transfer data. Jaringan telekomunikasi. Internet dan sebagainya, Tapi tidak untuk teknologi memindahkan fisik sebuah benda. Lantas, bagaimana mungkin kita yang hidup di zaman sekarang tidak mewarisi teknologi hebat sahabat Nabi Sulaiman tersebut setelah ribuan tahun berlalu? Bagaimana mungkin tidak ada penjelasannya dan kita sekadar mempercayai kalau itu kondisi luar biasa. Karomah. Keajaiban. Bukankah kepercayaan itu sebuah rasionalitas ilmiah?
Tentu saja ada penjelasan masuk akal atas transfer fisik kursi tersebut, harus ada penjelasan ilmiahnya, kita saja yang belum tahu. Atau mungkin tidak akan pemah tahu. Nah, masalahnya kenapa kita saat ini tidak mewarisi penjelasan penting tersebut? Jawabannya, mungkin saja karena peradaban, kemajuan teknologi itu persis seperti siklus naik turun. Masa-masa silam, masa-masa itu, manusia pernah menguasai berbagai teknologi hebat tersebut, malah mungkin pernah memiliki rumus sederhana seperti rumus phytagoras untuk menjelaskan bagaimana memindahkan kursi ke tempat lain. A kuadrat sama dengan B kuadrat plus C kuadrat. Tapi entah oleh apa ilmu pengetahuan itu kemudian musnah. Seperti roda yang berputar, peradaban manusia kembali lagi ke titik terendahnya...
Jadi sama sekali tidak mengherankan jika saat dunia menjelang masa senjanya, kita juga akan kehilangan senjata-senjata hebat yang ada sekarang dalam pertempuran besar itu. Dan dunia kembali ke peperangan dengan tangan, dengan pedang. Peperangan konvensional. Itu benar-benar masuk akal. Itu sesuai dengan kabar dari berbagai translasi religius ini....Maka pertanyaan pentingnya sekarang adalah: oleh apa? Oleh apa kita akan kehilangan ilmu pengetahuan dan berbagai teknologi canggih tersebut? Kemana menguapnya akumulasi ilmu pengetahuan yang hebat itu?
Dari penjelasan novel tersebut dikatakan bahwa akan terjadi Badai Etektromagnetik Antar Galaksi yang akan menghantam planet ini sebelum hari kiamat. Yang membuat berbagai peralatan elektronik, listrik, dan kemajuan teknologi lainnya seolah 'membeku', tidak berfungsi lagi. Mati.
Jika dipikir-pikir memang bener juga apa yang dikatakan oleh novel tersebut jika coba ditranslasikan dengan apa yang telah dikatakan oleh kitab suci. Jadi percaya gak kalo ilmu pengetahuan itu juga merupakan siklus naik turun? Jawabannya tergantung penyikapan dari masing-masing kitanya. Hehe


Sumber: Novel Bidadari-bidadari Surga karya Tere Liye

No comments:

Post a Comment